Beberapa
tahun tarakhir, tren ber-medsos
tampaknya semakin meningkat. Salah satu yang paling banyak diminati adalah whatsup. Pasalnya, aplikasi ini
memungkinkan pengguna membuat grup untuk saling memberi dan menerima informasi.
Ide ini disambut gembira oleh masyarakat modern. Dengan peluang tersebut,
komunikasi kelompok akan terus berjalan walau masing-masing terpisah jarak yang
jauh. Tidak hanya itu, hadirnya aplikasi seperti ini juga membuat koordinasi sebuah
organisasi semakin lancar dan cepat.
Namun
demikian, hadirnya medsos seperti ini bukan tanpa masalah. Dahlan Iskan dalam
sebuah tulisannya bahkan menyinggung hal ini sebagai media yang melahirkan
suku-suku modern. Tampaknya, pandangan tersebut bukan tanpa alasan. Faktanya, sebuah
grup medsos kerap kali dijadikan media propaganda untuk menyerang kelompok lain.
Juga menyebarkan hoax yang menguntungkan kelompoknya. Bahkan menjadi tempat mengagung-gungkan
kelompoknyalah yang terbaik. Hal tersebut adalah cikal bakal lahirnya fanatic
golongan. Sedangkan fanatic terhadap golongan tak jauh berbeda dengan cara
hidup manusia pada zaman dimana orang-orang hanya loyal terhadap suku atau
kelompok saja.
Apalagi,
percakapan-percakapan via medsos cenderung tertutup bahkan sangat rahasia. Yang
dapat melihat percakapan tersebut hanya anggotanya. Sedangkan seseorang tak akan menjadi anggota grup jika
tanpa persetujuan si admin. Artinya, si admin berpeluang hanya merekrut mereka
yang pro dengan pikiran dan ide-idenya. Selain itu, mereka yang tak se’gaya’,
tak se’pikiran’ dan tak se’ritme’ biasanya akan dikesampingkan.
Lalu,
bagaimana syariat memandang hal ini? Islam
merupakan agama yang menghendaki perdamaian dan persatuan. Sejak kemunculannya
14 abad yang lalu, ajaran ini telah menghapus sekat-sekat kelompok atau suku.
Allah SWT telah menegaskan bahwa Dia tak membeda-bedakan antara manusia. Allah
hanya melihat manusia dari sisi seberapa besar ketaqwaannya kepadaNya.
Dengan
demikian, fanatic terhadap golongan sangat bertentangan dengan ajaran Islam
karena cenderung mencerai-beraikan persatuan. Seorang muslim percaya bahwa
hadirnya hal semacam ini (grup medsos) adalah peluang untuk silaturrahmi,
berdakwah dan bermuamalah tanpa saling ghibah dan menyebarkan permusuhan
terhadap kelompok yang berseberangan dengannya. Karena hal tersebut hanya akan
memperlebar jurang permusuhan. Wallahu a’lam bisshawab.[] Fahru Rauzi

0 komentar:
Posting Komentar