Tepat hari ini (Kamis, 10/11/2016), 71 tahun sudah berlalu sebuah
peristiwa bagaimana perjuangan arek-arek suroboyo bersama Bung Tomo menghadapi
tentara sekutu. Perjuangan mereka tersebut hingga kini selalu dikenang dari
generasi ke generasi tanpa henti. Mereka dikenang dalam keberanian dan kesucian
sang saka merah putih.
Berangkat dari peristiwa inilah maka tanggal 10 November dijadikan sebagai
hari pahlawan sebagai bentuk rasa hormat dan terima kasih atas jasa-jasa
mereka. Pengorbanan dalam mempertahankan tanah air yang tercinta Indonesia.
Pahlawan
Kini
Dulu pahlawan lahir ketika bangsa kolonial menjajah sebuah
negeri. Kemudian di antara mereka ada yang berinisiatif mengumpulkan
masyarakat, memberikan semangat dan motivasi untuk sama-sama berjuang dan berkorban
dengan harta, jiwa, dan raganya untuk membela hak mereka dari penjajah. Sehingga
dengan perjuangannya itu sejarah pun menulis nama mereka dengan tinta emas
sebagai pahlawan negeri dalam menghadapi dan melawan penjajah.
Namun dewasa ini bagaimana dengan kondisi sekarang? Negeri
kita sudah merdeka atas kedaulatan negara lain. Memiliki hak penuh dan
kewenangan dalam menentukan arah tujuan negeri kedepan. Apakah dengan kondisi seperti
sekarang ini tidak lagi melahirkan figur-figur kepahlawanan yang berani
berkorban demi kebenaran? Apa kita tidak membutuhkan sosok-sosok seperti itu
lagi? Tentu tidak. Selamanya kita terus membutuhkan figur-figur pahlawan dalam
kehidupan kita.
Contoh terkecil adalah ayah ibu kita. Mereka adalah sosok
pahlawan bagi anak-anaknya. Ibu yang mengandung kita sembilan bulan lamanya.
Kemudian melahirkan kita dengan taruhan nyawa, dan menyapih kita selama dua
tahun. Sosok ayah dengan keterbatasannya berusaha sekuat tenaga membanting
tulang untuk menafkahi keluarganya. Setiap suapan yang masuk ke kerongkongan
kita adalah lewat hasil cucuran keringatnya. Mereka berdua menjaga dan mendidik
kita dari buaian sampai saat ini, tiada putus perhatian dan kasih sayang mereka
pada kita. Merekalah bagian dari pahlawan kita saat ini.
Dalam lingkup yang lebih besar kita hidup bersosial dengan
banyak manusia. Kita tentu memiliki para pemimpin di setiap levelnya. Mulai
dari ketua RT, RW, Lurah, Camat, Walikota, Gubernur sampai presiden. Merekalah
para pahlawan kita saat ini. Karena sejatinya mereka adalah pelayan, pengayom,
pelindung kita semua sebagai rakyat mereka. Sejatinya mereka para pemimpin itu
berjiwa pemberani, rela berkorban demi kebenaran layaknya para pahlawan
terdahulu.
Namun sangat disayangkan dengan adanya pemimpin yang merusak
citra sebagai pahlawan negeri. Dewasa ini ketika ada seorang pemimpin yang
seharusnya menjadi pengayom, pendamai, dan pelindung bagi rakyatnya, tetapi malah
meretakkan kerukunan beragama rakyat dengan menistakan kitab suci umat Islam.
Yang seharusnya mereka rela berkorban jiwa dan raga demi kebenaran, tetapi malah
menjadi pengkhianat kebenaran dan pelindung serta pembela pihak yang bersalah. Yang
seharusnya mereka menjadi pelayan bagi rakyatnya, malah ngacir meninggalkan dan
mecueki rakyatnya yang lagi membutuhkan dirinya.
Apa gerangan yang menimpa para pemimpin negeri ini? Sebagai
figur-figur yang kita dambakan dan impikan. Malah menjadi figur-figur pengecut
dan jauh dari sikap kepahlawanan. Jendral Sudirman, Bung Tomo, Teuku Umar,
Pangeran Diponegoro dan lainnya. Sederet nama-nama tersebut tidak pernah
mengajarkan sikap pengecut dan lari dari tanggung-jawab. Miris dan mengiris!
Mari Tentukan Sikap!
Problematika kita saat ini memang sedikit lebih pelik.
Jikalau orang-orang dahulu bisa langsung menerka yang mana kawan dan yang mana
lawan. Sehingga cepat menetukan sikap dan langkah.
Namun saat dibandingkan dengan zaman kekinian katanya, maka
kita perlu ekstra hati-hati. Selain modal aqidah dan ilmu, kita harus pandai
menganalisis problematika yang sedang dihadapi umat. Agar jangan sampai salah
dalam menentukan sikap dan melangkah.Betapa banyaknya saudara-saudara kita yang
muslim dan berilmu tinggi namun malah
menggembosi umat Islam dan membela orang-orang fasik, munafik, dan kafir. Mari
buka mata, hati, dan pikiran. Untuk mengetahui siapa sebenarnya The real
hero kita saat ini.[] Ibnu Husayn

0 komentar:
Posting Komentar