Senin, 14 November 2016

Pahlawan dan Penista



Tepat hari ini (Kamis, 10/11/2016), 71 tahun sudah berlalu sebuah peristiwa bagaimana perjuangan arek-arek suroboyo bersama Bung Tomo menghadapi tentara sekutu. Perjuangan mereka tersebut hingga kini selalu dikenang dari generasi ke generasi tanpa henti. Mereka dikenang dalam keberanian dan kesucian sang saka merah putih.


Berangkat dari peristiwa inilah  maka tanggal 10 November dijadikan sebagai hari pahlawan sebagai bentuk rasa hormat dan terima kasih atas jasa-jasa mereka. Pengorbanan dalam mempertahankan tanah air yang tercinta Indonesia.


Pahlawan Kini
Dulu pahlawan lahir ketika bangsa kolonial menjajah sebuah negeri. Kemudian di antara mereka ada yang berinisiatif mengumpulkan masyarakat, memberikan semangat dan motivasi untuk sama-sama berjuang dan berkorban dengan harta, jiwa, dan raganya untuk membela hak mereka dari penjajah. Sehingga dengan perjuangannya itu sejarah pun menulis nama mereka dengan tinta emas sebagai pahlawan negeri dalam menghadapi dan melawan penjajah.

Namun dewasa ini bagaimana dengan kondisi sekarang? Negeri kita sudah merdeka atas kedaulatan negara lain. Memiliki hak penuh dan kewenangan dalam menentukan arah tujuan negeri kedepan. Apakah dengan kondisi seperti sekarang ini tidak lagi melahirkan figur-figur kepahlawanan yang berani berkorban demi kebenaran? Apa kita tidak membutuhkan sosok-sosok seperti itu lagi? Tentu tidak. Selamanya kita terus membutuhkan figur-figur pahlawan dalam kehidupan kita.

Contoh terkecil adalah ayah ibu kita. Mereka adalah sosok pahlawan bagi anak-anaknya. Ibu yang mengandung kita sembilan bulan lamanya. Kemudian melahirkan kita dengan taruhan nyawa, dan menyapih kita selama dua tahun. Sosok ayah dengan keterbatasannya berusaha sekuat tenaga membanting tulang untuk menafkahi keluarganya. Setiap suapan yang masuk ke kerongkongan kita adalah lewat hasil cucuran keringatnya. Mereka berdua menjaga dan mendidik kita dari buaian sampai saat ini, tiada putus perhatian dan kasih sayang mereka pada kita. Merekalah bagian dari pahlawan kita saat ini.

Dalam lingkup yang lebih besar kita hidup bersosial dengan banyak manusia. Kita tentu memiliki para pemimpin di setiap levelnya. Mulai dari ketua RT, RW, Lurah, Camat, Walikota, Gubernur sampai presiden. Merekalah para pahlawan kita saat ini. Karena sejatinya mereka adalah pelayan, pengayom, pelindung kita semua sebagai rakyat mereka. Sejatinya mereka para pemimpin itu berjiwa pemberani, rela berkorban demi kebenaran layaknya para pahlawan terdahulu.

Namun sangat disayangkan dengan adanya pemimpin yang merusak citra sebagai pahlawan negeri. Dewasa ini ketika ada seorang pemimpin yang seharusnya menjadi pengayom, pendamai, dan pelindung bagi rakyatnya, tetapi malah meretakkan kerukunan beragama rakyat dengan menistakan kitab suci umat Islam. Yang seharusnya mereka rela berkorban jiwa dan raga demi kebenaran, tetapi malah menjadi pengkhianat kebenaran dan pelindung serta pembela pihak yang bersalah. Yang seharusnya mereka menjadi pelayan bagi rakyatnya, malah ngacir meninggalkan dan mecueki rakyatnya yang lagi membutuhkan dirinya.

Apa gerangan yang menimpa para pemimpin negeri ini? Sebagai figur-figur yang kita dambakan dan impikan. Malah menjadi figur-figur pengecut dan jauh dari sikap kepahlawanan. Jendral Sudirman, Bung Tomo, Teuku Umar, Pangeran Diponegoro dan lainnya. Sederet nama-nama tersebut tidak pernah mengajarkan sikap pengecut dan lari dari tanggung-jawab. Miris dan mengiris!



Mari Tentukan Sikap!
Problematika kita saat ini memang sedikit lebih pelik. Jikalau orang-orang dahulu bisa langsung menerka yang mana kawan dan yang mana lawan. Sehingga cepat menetukan sikap dan langkah.

Namun saat dibandingkan dengan zaman kekinian katanya, maka kita perlu ekstra hati-hati. Selain modal aqidah dan ilmu, kita harus pandai menganalisis problematika yang sedang dihadapi umat. Agar jangan sampai salah dalam menentukan sikap dan melangkah.Betapa banyaknya saudara-saudara kita yang muslim dan berilmu tinggi  namun malah menggembosi umat Islam dan membela orang-orang fasik, munafik, dan kafir. Mari buka mata, hati, dan pikiran. Untuk mengetahui siapa sebenarnya The real hero kita saat ini.[] Ibnu Husayn

0 komentar:

Posting Komentar